Gari Rakai Sambu

Lebih Fiktif Dari Fiksi

Cerpen: Republik Move On

Rani, senior yang paling ditakuti oleh segenap mahasiswa baru di kampusku, sama persis dengan Malang: dingin, misterius. Rani adalah orang paling antagonis di acara ospek ini. Selain mahasiswi, kurasa penebar teror adalah pekerjaan utamanya. Pagi ini, berkat sedikit “keberuntungan,” teror itu khusus ia hadiahkan kepadaku. Ya, aku. Bukan ratusan mahasiswa lain yang berbaris dalam topi dan pita warna-warni di lapangan kampus.

“Sebutin sekali lagi, apa dosa kamu?”

Aku mendesah pelan. Entah sudah berapa kali aku mengucapkan kalimat ini pada senior-senior lain: “Gak bawa telor.” Mungkin ini yang keseratus kalinya.

Dahi gadis itu mengernyit. “Kamu menantang saya?!” bentaknya. “Lupa peraturannya? Harus bilang apa setiap ngomong sama senior perempuan?”

“Roro…”

“Bagus, ternyata kamu masih inget. Jadi, ulangi sekali lagi, apa dosa kamu hari ini, ehm… Kirun?” Dia membaca name tag dari kardus di dadaku. Tentu saja, itu bukan nama asliku. read the rest

Bersahabatlah dengan Kegagalan

Kalau kegagalan adalah makanan, saya pasti sudah obesitas. Hampir setiap saat saya mengalami kegagalan. Saya sering berpikir, mungkin dulunya saya lahir kembar dempet. Saya dikasih nama Gari, kembaran saya dikasih nama Gagal. Gari dan Gagal ke mana-mana selalu barengan, namanya juga kembar dempet. Makan barengan, boker barengan, jadi alay juga barengan. Alkisah, sebuah operasi khusus berhasil memisahkan Gari dan Gagal. Namun entah bagaimana caranya, sebagian dari diri Gagal masih ada di diri Gari. Begitu pun sebaliknya.

Gagal senang karena masih bisa berhubungan dengan Gari walau sudah terpisah secara fisik. Sebaliknya, Gari pengen muntah. Gari bahkan sering berpikir untuk melakukan operasi lagi, biar bagian tubuh Gagal bisa benar-benar menghilang dari dirinya. Tapi Gari selalu gagal.

Tuh kan, bahkan untuk memisahkan kegagalan dari diri saya pun, saya selalu gagal. #tepokjidat read the rest

And Love for All

Saya nggak paham, kenapa orang-orang harus merayakan Valentine? Emangnya nggak ada hari yang lebih penting untuk dirayain? Kenapa nggak ada hari mencukur bulu ketiak, hari bercocok tanam, dan hari beternak cicak? Itu semua lebih penting daripada Valentine. Dengan mencukur bulu ketiak, badan kita jadi lebih bersih. Inget, kebersihan adalah sebagian dari iman! #tsah

Dengan bercocok tanam, lingkungan menjadi segar. Polusi berkurang. Senyum bumi kian menghijau cerah. Dan dengan beternak cicak, kita bisa menghemat pengeluaran belanja baygon setiap bulan.

Saya yakin, Valentine cuma konspirasi murahan buatan pakbrik cokelat dan Teddy Bear. Gimana nggak, setiap hari Valentine, dua benda itu seperti menjadi benda wajib. Wajib dibeli, wajib dikasih ke orang yang kita sayangi, dan wajib dikasih pita pink biar lebih manis. Pita pink! Bayangin! Terus gimana kalau saya sayangnya sama nenek saya? Bisa-bisa digampar bolak-balik sama beliau kalau saya nekat ngasih Teddy Bear dan cokelat berpita pink di hari Valentine. read the rest

Jika Tak Bisa Jadi yang Terbaik, Jadilah yang Tercepat

Entah ada apa antara saya dengan deadline. Entah sejak kapan, deadline terasa seperti musuh bebuyutan. Harus diberantas dan dimusnahkan. Ada tiga hal paling nggak penting di dunia yang harus dienyahkan dari muka bumi: deadline, jam weker, dan alay yang nongol di Dahsyat tiap pagi.

Berkat “tingginya” IQ dan “kecepatan” saya dalam segala hal, saya selalu terlambat menepati deadline. Terlambat udah kayak makanan sehari-hari. Sifat terlambat saya ini bahkan sampe menular ke istri saya. Terakhir kali, bulannya yang terlambat. Huh, dasar… *geleng-geleng kepala*

(Iyes, I’m gonna be a father! Yippie!!) *gangnam style* *dirajam masa*

Untungnya saya bukan Spiderman. Nggak kebayang kalau Spiderman terus-terusan terlambat nyelametin orang. “Maaf Man, korbannya udah dibawa sama Dokter Oktopus berobat di puskesmas,” kata satpam yang beres-beres TKP. Pertanyaannya, sejak kapan Dokter Oktopus buka praktek di puskesmas?

Oke itu nggak penting.  read the rest