Gari Rakai Sambu

Tips Menulis Fiksi dan Lain-Lain

Fiksi Lebih Penting Daripada Nasi

Kampung Fiksi

Kampung Fiksi

Saya #gagalpaham kenapa orang-orang lebih butuh nasi daripada fiksi? Padahal kan nasi cuma bikin kita nggak kelaparan dan bisa ngelanjutin hidup? Cuma itu, kan?

*mendadak hening*

Fiksi jelas-jelas lebih penting daripada nasi. Fiksi nggak cuma sekadar bikin kenyang. Sila tengok perkataan Pramoedya Ananta Toer:

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Lihat?

Menulis fiksi bisa bikin abadi. Kurang keren apa? Nasi kalo kelamaan bisa jadi abasi. #maksa

Makanya saya heran, kenapa orang repot-repot beli krim awet muda? Padahal fiksi nggak cuma bikin awet muda, tapi bikin awet usia. Bikin abadi. Kurang keren apa?

Saya juga heran, kenapa Firaun capek-capek ngebalsem seluruh tubuhnya biar abadi? Coba dulu dia mau nulis teenlit. Pasti ceritanya bakal beda. read the rest

Tentang Sepanjang Musim dan Langkah Awal Menulis Fiksi

Perlu waktu lumayan lama untuk bersihin sarang laba-laba (baca: spam) di blog ini. Sejak awal nge-blog, spam adalah satu-satunya alasan yang bikin mood bikin postingan langsung melempem. Padahal dari awal udah pasang plugin Akismet (dulu sempet lama salah baca jadi Askimet… hihi). Buat yang belom tahu, itu plugin ajaib yang bisa bikin seorang blogger jomblo jadi punya pasangan.

Enggak.

Itu plugin buat menjaring spam secara otomatis. Catet ya, menjaring. Bukan menolak. Jadi tetep aja spam-spam itu pada masuk, dan harus dihapus secara manual. Dan itu merusak mood. Sangat merusak mood. Jadi jangan salahkan saya kalau blog ini jarang ada postingan baru. Kalian tahu harus meletakkan kesalahan pada siapa. *self-tampar*

Postingan ini adalah postingan pertama di 2014. Jadi saya tiada boleh sembarangan nulis, walaupun saya tiada pernah tiada sembarangan dalam menulis. #apaseh  read the rest

Menulis Dongeng Secepat Kilat

Tahun ini adalah tahun penuh berkah bagi saya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya memiliki peran baru—menjadi seorang ayah.

Bukan berarti keberkahan itu tak memiliki sisi negatif. Hobi anak saya bangun tengah malam, mau tak mau membuat saya ikut menemaninya begadang. Dalam keadaan seperti itu, saya berusaha untuk terus mengajaknya bicara. Kadang saya membacakan surat-surat hafalan, untuk sekadar memperkenalkan agama yang ia anut. Namun seringkali saya kehabisan topik pembicaraan. Tak jarang pula saya kehabisan hafalan surat—maklum, hafalan saya memang belum banyak.

Dalam kondisi seperti itu, saya selalu mati kutu. Sudah lewat tengah malam, namun kedua mata anak saya masih terlihat segar. Akhirnya, tak ada pilihan lain, saya harus membacakan dongeng. Namun saya tak ingin membacakan dongeng tentang Kancil, Timun Mas, atau dongeng Nusantara lain. Saya selalu merasa nasihat yang ingin saya sampaikan pada anak saya kurang sesuai dengan pesan moral dari cerita-cerita itu. Maka saya pun memutuskan membuat dongeng sendiri. Alasan lain, saya ingin membuat dongeng eksklusif yang hanya saya ciptakan untuk anak saya sendiri.  read the rest

5 Rahasia Membuat Cerita Hebat

Tanpa terasa, hampir 4 tahun saya berkiprah sebagai editor buku. Berbagai naskah (khususnya fiksi) sudah pernah saya baca, baik yang punya cerita di dalamnya, maupun tidak.

Tunggu sebentar. Kamu bilang, novel tanpa cerita? Bisakah?

Oh ya, tentu bisa.

Seperti yang kita semua tahu, cerita adalah bahan baku sebuah novel. Lalu, bagaimana kalau tak ada cerita di dalam novel itu? Apa yang ada di dalamnya? Entahlah. Kadang hanya kejadian percintaan sepasang manusia yang terlalu membosankan untuk dibaca. Tingkat kebosanannya bertambah parah jika novel itu disajikan dalam bentuk diary. Kadang hanya celoteh sang penulis tentang sekelumit pengalaman hidupnya yang ia anggap menarik, yang tentu saja tak kalah membosankan. Tingkat kebosanannya mencapai titik maksimal ketika si penulis menuturkan kisah hidupnya sejak lahir hingga masa tua.

Tak salah memang membuat otobiografi yang dikemas dengan fiksi. Andrea Hirata telah membuktikannya lewat Laskar Pelangi, dan ia berhasil. Yang membedakan antara Andrea Hirata dan kebanyakan novel yang saya baca adalah: cerita. Laskar Pelangi punya cerita. Dan itu yang bikin sekelumit kisah hidup Andrea Hirata menarik untuk diikuti.

Baiklah, cukup tentang basa-basi. Jadi, cerita itu apa?  read the rest

Cerpen: Republik Move On

Rani, senior yang paling ditakuti oleh segenap mahasiswa baru di kampusku, sama persis dengan Malang: dingin, misterius. Rani adalah orang paling antagonis di acara ospek ini. Selain mahasiswi, kurasa penebar teror adalah pekerjaan utamanya. Pagi ini, berkat sedikit “keberuntungan,” teror itu khusus ia hadiahkan kepadaku. Ya, aku. Bukan ratusan mahasiswa lain yang berbaris dalam topi dan pita warna-warni di lapangan kampus.

“Sebutin sekali lagi, apa dosa kamu?”

Aku mendesah pelan. Entah sudah berapa kali aku mengucapkan kalimat ini pada senior-senior lain: “Gak bawa telor.” Mungkin ini yang keseratus kalinya.

Dahi gadis itu mengernyit. “Kamu menantang saya?!” bentaknya. “Lupa peraturannya? Harus bilang apa setiap ngomong sama senior perempuan?”

“Roro…”

“Bagus, ternyata kamu masih inget. Jadi, ulangi sekali lagi, apa dosa kamu hari ini, ehm… Kirun?” Dia membaca name tag dari kardus di dadaku. Tentu saja, itu bukan nama asliku. read the rest

Bersahabatlah dengan Kegagalan

Kalau kegagalan adalah makanan, saya pasti sudah obesitas. Hampir setiap saat saya mengalami kegagalan. Saya sering berpikir, mungkin dulunya saya lahir kembar dempet. Saya dikasih nama Gari, kembaran saya dikasih nama Gagal. Gari dan Gagal ke mana-mana selalu barengan, namanya juga kembar dempet. Makan barengan, boker barengan, jadi alay juga barengan. Alkisah, sebuah operasi khusus berhasil memisahkan Gari dan Gagal. Namun entah bagaimana caranya, sebagian dari diri Gagal masih ada di diri Gari. Begitu pun sebaliknya.

Gagal senang karena masih bisa berhubungan dengan Gari walau sudah terpisah secara fisik. Sebaliknya, Gari pengen muntah. Gari bahkan sering berpikir untuk melakukan operasi lagi, biar bagian tubuh Gagal bisa benar-benar menghilang dari dirinya. Tapi Gari selalu gagal.

Tuh kan, bahkan untuk memisahkan kegagalan dari diri saya pun, saya selalu gagal. #tepokjidat read the rest

And Love for All

Saya nggak paham, kenapa orang-orang harus merayakan Valentine? Emangnya nggak ada hari yang lebih penting untuk dirayain? Kenapa nggak ada hari mencukur bulu ketiak, hari bercocok tanam, dan hari beternak cicak? Itu semua lebih penting daripada Valentine. Dengan mencukur bulu ketiak, badan kita jadi lebih bersih. Inget, kebersihan adalah sebagian dari iman! #tsah

Dengan bercocok tanam, lingkungan menjadi segar. Polusi berkurang. Senyum bumi kian menghijau cerah. Dan dengan beternak cicak, kita bisa menghemat pengeluaran belanja baygon setiap bulan.

Saya yakin, Valentine cuma konspirasi murahan buatan pakbrik cokelat dan Teddy Bear. Gimana nggak, setiap hari Valentine, dua benda itu seperti menjadi benda wajib. Wajib dibeli, wajib dikasih ke orang yang kita sayangi, dan wajib dikasih pita pink biar lebih manis. Pita pink! Bayangin! Terus gimana kalau saya sayangnya sama nenek saya? Bisa-bisa digampar bolak-balik sama beliau kalau saya nekat ngasih Teddy Bear dan cokelat berpita pink di hari Valentine. read the rest

Jika Tak Bisa Jadi yang Terbaik, Jadilah yang Tercepat

Entah ada apa antara saya dengan deadline. Entah sejak kapan, deadline terasa seperti musuh bebuyutan. Harus diberantas dan dimusnahkan. Ada tiga hal paling nggak penting di dunia yang harus dienyahkan dari muka bumi: deadline, jam weker, dan alay yang nongol di Dahsyat tiap pagi.

Berkat “tingginya” IQ dan “kecepatan” saya dalam segala hal, saya selalu terlambat menepati deadline. Terlambat udah kayak makanan sehari-hari. Sifat terlambat saya ini bahkan sampe menular ke istri saya. Terakhir kali, bulannya yang terlambat. Huh, dasar… *geleng-geleng kepala*

(Iyes, I’m gonna be a father! Yippie!!) *gangnam style* *dirajam masa*

Untungnya saya bukan Spiderman. Nggak kebayang kalau Spiderman terus-terusan terlambat nyelametin orang. “Maaf Man, korbannya udah dibawa sama Dokter Oktopus berobat di puskesmas,” kata satpam yang beres-beres TKP. Pertanyaannya, sejak kapan Dokter Oktopus buka praktek di puskesmas?

Oke itu nggak penting.  read the rest